Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Ibuku adalah Inspirasiku



Kini pukul 4 sore, waktunya para pegawai pulang dari kantor. Hujan deras di depan membuat orang-orang termasuk aku memilih untuk sejenak berada di kantor hingga hujan reda. ketika orang-orang menunggu hujan reda di depan dan loby kantor, aku lebih memilih untuk kembali keruangan kerjaku. Merapikan meja kerja yang masih berantakan dengan kertas-kertas yang berserakan dimana-mana, seorang cleaning service masuk keruanganku dan ikut membantu membersihkan lalu dia berkata kepadaku.

"Hujannya semakin deras bu, mau saya buatkan kopi hangat? itu kan kesukaan ibu."
"Ehm, boleh deh. mba' tau saja kalau saya ingin minum kopi." jawabku tersenyum kepada celaning service itu, ia pun berjalan keluar dari ruanganku.

Aku biasa dipanggil Kiki, hanya ketika di kantor saja aku mendapat panggilan tambahan Bu didepannya. Beberapa menit kemudian, ia datang kembali dengan nampan berisi kopi hangat. Lalu ia menaruhnya di meja kerjaku dengan tersenyum hangat padaku dan kembali keluar dari ruanganku. Aku berdiri dari sofa panjang dekat dengan kaca besar yang mengarah ke jalanan depan kantor, mengambil kopi yang telah dibuatkan dan menaruhnya di meja biasa samping sofa panjang. Melihat cleaning service tadi mengingatkanku pada sesuatu, tetapi bukan sesuatu seperti benda namun kenangan kepada sosok yang mendidikku hingga menjadikan aku bisa seperti ini. Seorang penjual makanan dan minuman angkringan yang biasa ku panggil ibu.
Ayah dan ibu adalah seorang pedagang angkringan sederhana. Gerobak usang yang berwara coklat tua didapatkan dari tetangga yang dekat dengan ayah. Sebelum itu, ayah adalah seoorang kuli bangunan panggilan dan ibu hanyalah buruh cuci di kampungku. Ayah dan ibu adalah orang yang dianggap ramah dan jujur oleh para tetangga. Sahabat ayah sejak SMA adalah Pak Narno yang bekerja sebagai pedagang angkringan saat itu. Namun, karena anak pertama Pak Narno sudah menjadi orang yang sukses akhirnya keluarga mereka pindah ke rumah baru anaknya. Gerobak tua yang dipakai oleh ayah adalah pemberian Pak Narno.
Namun, 4 tahun kemudian ayah meninggal. Kami sangat sedih sekali, rumah kami dipenuhi oleh orang-orang. Tidak hanya tetangga kampung kami saja, bahkan orang-orang berdasi rapi juga datang ke rumah kecil kami. Sejak saat itu, ibu berdagang angkringan sendirian walaupun kadang-kadang aku ikut dengan ibu. Tempat kami berdagang ada di depan gerai fotocopyan, kami juga selalu melewati gedung yang besar dengan kaca-kaca yang besar, aku pun membayangkan bagaimana rasanya melihat dari kaca yang berada di lantai atas gedung itu. Sepertinya sangat menarik dan menakutkan. Kata ibu gedung itu adalah bank tempat untuk kita menabung, dalamnya sangat ramai, indah dan juga dingin. Dulu ibu sangat ingin bekerja di gedung yang namanya bank itu.
Ketika aku membantu ibu untuk merapikan makanan di dalam gerobak, ibu selalu memberikan nasihat-nasihatnya melalui cerita-cerita yang diberikan kepadaku. Kejujuran adalah nomor satu yang ibu berikan kepadaku. Ada orang yang membeli makanan kami mungkin karena orang itu terburu-buru, ia lantas pergi dan lupa uang kembaliannya. Untung saja karena orang itu besoknya kembali lagi ke angkringan kami, ibu langsung memberitahu ke orang itu dan orang itu membeli beberapa makanan lagi dan mengatakan ke ibu bahwa ia menambah beberapa makanan dan uang kembaliannya diberikan untuk ibu.
Yang kedua adalah kesabaran. Dulu ibu pernah dikeroyoki oleh orang-orang karena dianggap telah mencuri motor, wajah ibu dipenuhi luka lebam membiru dan darah di pelipis matanya. Lalu ibu dibawa ke kantor polisi, selama 3 hari ibu ditahan. Aku sering menangis ketika itu dan kakakku, kak Ina mengantarkanku ke tempat ibu. Namun, anehnya ibu sama sekali tidak merasa sedih, ibu juga sempat berkata padaku,
“Apa yang perlu ditangisi dan disedihkan jika itu memang bukan kesalahan kita, jika memang sudah ditakdirkan ya dijalani saja dan berdoa semoga pencuri sebenarnya segera bertaubat.”
Ternyata benar yang dikatakan oleh ibu, orang itu telah tertangkap karena bukti pencuriannya direkam oleh kamera pengintai milik gerai fotocopyan. Ibu langsung dibebaskan dan orang-orang yang mengeroyoki ibu langsung meminta maaf dan malu. Ibuku memang orang yang sangat hebat, dalam keadaan sepeti itu ibu tetap tenang dan sabar.
Ketika pengumuman kelulusan SMA ibu sudah tidak sabar menunggu amplop berwarna putih nanti yang diberikan pada ibu. Ibu masuk ke dalam kelas dan aku hanya ingin menunggu di depan kelas. Beberapa menit kemudian, ibu sudah keluar dari kelas dan menghampiriku yang saat itu penasaran dengan nilai yang aku dapatkan. Ibu duduk di sampingku dan memelukku erat sekali, terlihat air yang mengalir dari ujung matanya lalu ia seka dengan ujung jarinya. Diberikannya amplop putih itu padaku, kubuka perlahan. Dengan rasa yang campur aduk yang tidak dapat kujelaskan, tulisan disurat itu ‘Selamat anda lulus’ ternyata ada 1 surat lagi didalamnya ‘Selamat Anda Lulus Dengan Nilai Terbaik Se-provinsi’ bukan main rasanya melihat surat yang ku pegang saat ini. Aku menatap ibu yang melihatku dengan penuh rasa bangga. Aku menangis dipelukan ibu, ibu mengusap kepalaku dengan halus dan penuh kasih sayang.
Aku melanjutkan kuliah disalah satu perguruan tinggi di kotaku. Mengambil jurusan di fakultas akuntansi adalah pilihanku. Bagaimanapun juga ini bukan hanya keinginanku saja, tapi juga keinginan ibu yang sudah terpendam dalam dirinya sejak lama. Aku juga mendapatkan beasiswa hingga aku lulus sarjana nantinya. Saat itu, aku fokus dengan kuliahku dan tidak melakukan hal-hal lain seperti remaja kebanyakan. Kata ibu,
“Ada saatnya kita untuk merasakan hal itu dan sekarang mungkin kamu belum merasakannya karena kamu memang ditakdirkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.”
Walaupun aku tidak melakukan hal-hal seperti teman-temanku, aku tetap bisa menyesuaikan diri untuk berteman bersama mereka. Aku juga pernah didekati oleh kakak seniorku, tetapi aku hanya menganggapnya seperti teman-temanku pada umumnya.
Dari tahun ke tahun yang keluarga kami lalui bersama, semakin lama ibu semakin tua dan fisiknya mulai lemah. Ibu tetap memaksakan untuk tetap berdagang, walaupun ibu sudah tidak harus membayar uang sekolahku lagi. Ibu berkata padaku,
“Gunakan waktu sebaik-baiknya, jika ada waktu luang maka harus digunakan untuk beraktifitas dengan sebaik baiknya, kalo ibu hanya diam di rumah justru badan ibu akan terasa pegal-pegal dan sakit, lagipula sendirian di rumah itu tidak menyenangkan.”
Aku hanya bisa menuruti perkataan ibu dan mengambil isi dari perkataan inu karena pasti itu adalah sebuah nasihat yang diberikan ibu kepadaku untuk aku lakukan juga jika aku mempunyai waktu luang nantinya.
Akhir-akhir ini wajah ibu sangat pucat. Terakhir kali ibu jatuh karena pusing ketika hendak pulang dari pasar namun, sorenya ia tetap ingin berdagang angkringan seperti biasanya. Ibu bilang kalau semakin lama kebtuhan kita semakin banyak kaena aku bertumbuh dewasa jadi ibu harus punya tabungan uang setidaknya sedikit demi sedikit menjadi bukit dan bisa digunakan untuk keperluan mendadak suatu saat nanti. Ibu selalu menasihatiku dengan perkataanya yang halus, walaupun aku khawatir dengan keadaan ibu saat ini namun aku bangga kepadanya karena ia dapat menutupi perasaannya yang sedih dengan senyum dan kebahagiannya. Ibu juga tidak pernah menangis di depanku. Jika ibu mempunyai masalah ibu tidak langsung mengatakannya padaku tapi mengatasi masalahnya sendirian terlebih dahulu jika tidak bisa diselesaikan ibu baru minta bantuanku. Aku juga pernah bertemu dengan teman ibu ketika hendak pergi berdagang. Teman ibu itu mengatakan kalau aku sangat mirip sekali dengan ibu, ibu juga adalah orang yang baik terhadap semua orang walaupun tidak semua orang menyukainya, katanya ibu juga pernah membantu ia ketika anaknya sakit parah, ibu meminjamkan sedikit uang kepada temannya itu, begitulah yang diceritakan teman ibu tentang ibuku. Ibuku memang orang yang baik.
Beberapa tahun kemudian, aku lulus kuliah dengan nilai akhir yang memuaskan dan aku pun juga diterima kerja di bank dekat tempat angkringan kami. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan, berpuluh-puluh tahun ibu ingin sekali bekerja di bank ini tapi tidak bisa ia lakukan. Kini aku yang menggantikan keinginan ibu untuk bisa bekerja di tempat ini, benar kata ibu bank ini ramai, indah dan dingin. Awal masuk kerja aku bekerja sebagai pegawai biasa, dan aku masih belum terbiasa dengan alat pendingin ruangan yang bernama AC itu. Aku jadi sering menggigil dan flu. Setahun bekerja kini aku mulai terbiasa, aku dekat dengan siapa saja walaupun orang itu jabatannya lebih tinggi daripada aku. Aku berangkat dan pulang bekerja pun juga terbiasa dengan berjalan kaki walaupun sebenarnya uangku cukup untuk membeli sebuah motor. Ketika pulang aku selalu mampir ke angkringan untuk membantu-bantu ibu sebentar. Angkringan kami jadi bertambah ramai karena teman-teman kerjaku juga sudah mulai menikmati makanan di angkringan kami. Masakan ibu memang masakan yang paling enak, aku juga sangat suka kopi buatan ibu, walaupun sebenarnya cara membuatnya sama dengan orang-orang namun tedapat tambahan kasih sayang yang diberikan ibu untuk setiap makanan dan minuman yang dibuatnya.
Kali ini kondisi ibu memang mengkhawatirkan, ibu pingsan di tempat angkringan kami. Aku diberitahu oleh karyawan lain kalu ibu pingsan. Aku panik dan langsung meminta izin untuk mengantarkan ibu ke rumah sakit. 30 menit ibu diperiksa oleh dokter, dokter keluar dari ruangan ibu dirawat dan mengajakku untuk bicara di ruang kerja dokter. Aku dipersilahkan duduk dan dokter mulai bicara. Dokter mengatakan ibu terkena leukimia. Aku sangat merasa terkejut. Aku menangis melihat ibu terbaring lemah di kasur.
2 hari kemudian, aku naik pangkat, yang mebuatku terkejut adalah aku menjadi direktur utama bank. Aku sudah tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini kepada ibu. Sepulang kerja aku menengok ibu. Bercerita kepada ibu soal kenaikan pangkatku. Ibu mengatakan dengan suara lirih,
“Kamu barhasil anakku, tetapi jabatan bukanlah segalanya yang penting kamu bisa melakukan amanah yang diberikan padamu. Selalu ingat nasihat ibu, karena itu adalah bekal hidupmu nak. Ibu bangga sekali kamu juga bisa membayar keinginan ibu untuk bekerja di bank itu.”
Iya, ibu aku tidak akan melupakan nasihatmu. Esoknya aku menengok ibu kembali, namun dokter mengatakan bahwa ibuku sudah tiada. Seketika tangisku pecah, aku menangis dengan kencang sambil memeluk erat ibu. Ibu dimakamkan di samping makam ayah. Banyak sekali orang yang mengahantarkan ibu ke tempat peristirahaten terakhirnya. Semoga kau tenang disana ibu.
Suara seseorang mengejutkanku, ternyata cleaning service memanggilku sejak tadi, ia mengatakan bahwa hujan sudah reda dan kantor akan segera dikunci. Aku pun mengiyakan dengan tersenyum hangat padanya. Aku mengambil tas di kursi dan melihat keluar sejenak, ibu kini aku bisa melihat jalanan itu dari kaca besar di lantai atas. Terima kasih ibu, nasihatmu selalu ku ingat, perjuaganmu tidak akan ku lupakan.

Jumat, 18 April 2014

PENGALAMAN MAHABHAKTI 2014 #Part 1


Hai teman-teman! Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dalam perkemahan MAHABHAKTI kali ini. Banyak sekali hal-hal yang menyenangkan, menyedihkan, mengecewakan, dll. Tapi! Dalam perkemahan kali ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan! Mulai dari persiapan yang sangat meribetkan. Siapin ini, bawa itu, yang ini, itu juga dibawa, ini iya gak ya?

Hari pertama!


Semua murid yang mengikuti perkemahan berkumpul di sekolah pukul 06.30 tapi!! Masih aja ada yang terlambat, termasuk salah satu anggota dari sanggaku. Oya, sanggaku namanya Perintis C dan terdiri dari 8 orang. Setelah semua anggota sangga lengkap kami harus terlebih dahulu registrasi. Lalu, kami upacara di lapangan sekolah. Setelah itu, kita semua mulai berangkat ke bumi perkemahan menaiki bus. Ternyata, kami semua tidak langsung ke bumi perkemahan tetapi, kami diturunkan di suatu tempat. Lalu, kami harus berjalan dan terdapat 3 pos jaga disepanjang perjalanan. Kami hanya dibekali sebuah peta perjalanan menuju bumi perkemahan. Baru berjalan beberapa meter saja kami sudah kelelahan karena ketika waktu kami berjalan, matahari tepat di tengah. Dan pada akhirnya pun kami tiba di bumi perkemahan dengan wajah yang penuh dengan peluh keringat dan lelah. Kami pun mulai ke tempat yang sudah disediakan oleh panitia untuk tempat kami medirikan tenda. Kami pun beristirahat sebentar, dan makan bekal yang dibawa dari rumah yaitu nasi goreng, ayam goreng dan tempe berbentuk tunas kelapa. Setelah makan, kami pun mendirikan tenda dan mulai menyusun barang-barang di dalam tenda.

Pada malamnya, kegiatan kali ini adalah prosesi PTA (Penerimaan Tamu Ambalan). Awalnya kami dikumpulkan di lapangan sepak bola. Setelah itu, kami dicek kelengkapan seragamnya. Ternyata, masih ada saja yang tidak memakai seragam pramuka lengkap. Dan akhirnya kakak-kakak DA (Dewan Ambalan) mulai marah-marah. Setelah itu, kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang satunya di depan ruang keskretariatan dan kami yang lainnya tetap berada di lapangan sepak bola. Tak lama, ternyata hujan deras membasahi bumi perkemahan kami, kami pun dipindahkan ke ruang aula. Di dalam aula kami tetap dimarahi. Hingga, yang mempunyai penyakit asma pun disuruh maju ke depan dan push up. Pada akhirnya, salah satu anak laki-laki ada yag protes dan membuat sedikit keributan dan menjadi pertengkaran yang melibatkan antara kakak-kakak prmuka dengan anak laki-laki lainnya. Tak lama, yang mempunyai penyakit asma pun kambuh, lalu dibawa ke ruang kesehatan dan kegiatan terakhir adalah renungan malam yang menceritakan orang tua. Renungan malam itu pun membuat hati ku goyah dan mulai menitikkan air mata.

Setelah selesai renungan malam kami pun balik ke tenda, dan ternyata tenda dan barang-barang kami basah semua karena hujan deras tadi. Pada akhirnya, pun kakak-kakak pramuka pun memutuskan untuk yang ambalan ratnaningsih tidur di aula sedangkan ambalan alibasyah tidur di masjid dekat bumi perkemahan. Malam itu pun, kami tidur di aula bersama-sama.


Sekian dulu ceritaku. Kapan-kapan disambung lagi ya.. tunggu part selanjutnya!

Kamis, 06 Maret 2014

Ayahku Pergi


Seorang lelaki tua itu, berjalan sambil mendorong becaknya di gang kecil itu. Pakaiannya lusuh, mukanya pucat mengeluarkan keringat, dan sepotong kain di bahunya tampak sangat lusuh. Namanya Pak Abdullah, dia bekerja sebagai seorang tukang becak yang sering mangkal di pasar dekat rumahnya. Dengan hati-hati ia mendorong becaknya, lalu ia berhenti di pinggir jalan dan duduk di samping tiang listrik. Dikeluarkannya secarik kertas-kertas yang berharga dari celana yang sudah tidak sempurna. Dihitung lembaran-lembaran kertas itu, lalu ia berkata sambil tersenyum, ”alhamdulillah..” dengan senang Pak Abdullah pun beranjak pulang.
Saat melewati sebuah sekolah, Pak Abdullah berhenti dan mencari-cari seseorang. Namun, sesorang yang dicarinya belum terlihat, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada penjaga sekolah itu.
“Permisi pak.. saya mau tanya anak kelas sebelas kira-kira pulang jam berapa ya, pak??”
“Kalo yang kelas sebelas 5 menit lagi sudah pulang pak.” Jawab ramah penjaga itu.
“Terima kasih pak.” Pak Abdullah kembali ke becaknya dan menunggu seseorang.
Tak lama anak-anak pun keluar dari sekolah, seorang gadis yang sedang berjalan keluar dari sekolah bersama 3 temannya. Shinta, Mika, Sabrin dan Runi. Saat mereka asyik berbincang tiba-tiba mata Shinta terbelalak melihat ayahnya yang berada di depan sekolahnya sedang mencari-carinya. Teman-teman Shinta bingung melihat raut wajah Shinta yang nampak khawatir. Dengan perasaan yang gelisah Shinta segera mengajak teman-temannya  untuk masuk ke sekolah kembali. Tak diragukan, Shinta meminta teman-temannya kembali ke dalam sekolah agar ayahnya tidak melihat ia dan teman-temannya, jika ayahnya memanggilnya akan ketahuan bahwa Shinta hanyalah anak seorang tukang becak. Shinta malu harus mengakui bahwa ayanhnya hanyalah seorang tukang becak, jelas saja karena teman-temannya adalah anak dari orang terhormat dan kaya raya, apalagi ia sekolah di sekolah terbaik di kota itu dengan siswa yang rata-rata keseluruhannya adalah anak-anak orang kaya. Shinta pun bisa masuk di sekolah itu karena ia mendapatkan beasiswa dari sekolah itu. Namun sifat Shinta berubah setelah ia masuk sekolah itu, ia merasa iri dan gengsi terhadap teman-temannya yang dengan mudahnya mendapatkan barang-barang apapun yang disukai mereka sedangkan Shinta hanyalah seorang anak tukang becak yang penghasilannya tidak tentu. Dan semenjak itu Shinta sering meminta uang saku berlebihan tiap harinya pada ayahnya.
Namun ketika Shinta sudah di gerbang ayahnya melihatnya dan memanggilnya, dengan cepat Shinta menyuruh teman-temannya untuk menunggunya di dalam sekolah. Shinta pun dengan perasaan jengkel menghampiri ayahnya.
“Shin.. ba..” ucap ayahnya namun,
“Ayah ngapain sih ke sekolah Shinta, kan udah Shinta bilangin jangan pernah nemuin Shinta kalo ada temen-temen Shinta ayah!! Ayah tau gak sih, kalo temen-temen tau ayah Shinta kayak gimana nanti pasti Shinta dijauhin sama mereka ayah!!” Shinta dengan kasar tega membentak-bentak ayahnya sendiri. Air mata pun mentes dari ujung mata yang terlihat menderita, seorang anak yang ia banggakan dulunya kini berubah dan tega-teganya memarahinya.
“Ma..ma..maafkan ayah, ayah hanya ingin melihatmu nak, ayah ingin sekali pulang bersamamu, jika tidak mau juga tidak apa-apa, bapak akan pergi sekarang.” Ucap ayahnya dengan nada yang sedih, Pak Abdullah pun pergi meninggalkan Shinta. Dengan hati yang sedih, Pak Abdullah mengayuh pedal becaknya sangat pelan.
   Shinta lalu masuk ke sekolah untuk menemui teman-temannya kembali. Tapi, teman-temannya sama sekali sudah tidak ada di sekolah, akhirnya Shinta pun memilih untuk pulang. Ketika di jalan, Shinta merasa bahwa diikuti oleh seseorang, Shinta pun mempercepat jalannya, namun apa mau dikata, orang itu pun memegang lengan Shinta denga sangat erat hingga membuat Shinta terkejut dan merasa kesakitan.
“Eh eneng mau kemana?? Mau pulang ya neng? Abang anterin sini.. barangnya abang bawain sekalian supaya neng gak keberatan.” Rayu seorang preman yag sering mangkal di gang-gang kampung itu.
“Iiiih.. lepasin aku mau pulang.. pergi sana!!!” ucap Shinta lalu mendorong preman itu hingga terjatuh di tanah. Sang preman pun sangat marah karena diperlakukan seperti itu, akhirnya kejar-kejaran antara si preman dengan Shinta terjadi, Shinta yang bingung harus memilih jalan yang mana, namun ia tetap terus berlari sekuat tenaganya. Shinta pun melihat ke belakang tidak ada tanda-tanda bahwa si preman akan menyusulnya.
“Dasar cemen!! Bodoh!! Badan doang yang gede.. tenaganya gak ada!! Preman aneh!!” ucap Shinta sangat senang karena si preman tidak terlihat mengejar-ngejarnya lagi. Namun, tiba-tiba si preman sudah ada di belakangnya dan memegang tas yang di punggungnya, shinta pun tersentak dan menjerit, “Tolong!! Tolong!!” namun keadaan jalan saat itu sangat sepi. Pada saat itu kebetulan ayah Shinta melewati jalan itu karena jalan yang biasa dilewati sedang dalam perbaikan. Ketika itu pun juga Pak Abdullah pun langsung meminggirkan becaknya dan cepat-cepat menghampiri anaknya. Sang preman pun sudah mengeluarkan pisau dari balik jaket yang mengerikan itu, Shinta tidak tahu harus berbuat apa, Shinta hanya bisa pasrah pada saat itu. Sang preman pun sudah mengayunkan pisau itu ke perut Shinta, namun tak diduga Shinta terjatuh, Shinta pun melihat sosok orang yang medorongnya, dia adalah Pak Abdullah ayahnya, melihat pisau yang salah sasaran, sang preman pun pergi ketakutan.
            Pak Abdullah pun tergeletak lemah tak berdaya di tanah, Shinta yang melihat keadaan ayahnya seperti itu langsung berlari medekati ayahnya. Dalam keadaan seperti ini Pak Abdullah tetap tersenyum pada anaknya. Pak Abullah dengan sisa tenaganya berkata pada Shinta
“Anakku yang paling.. ayah sayang, ayah bersyukur diberi anugrah memiliki anak yang cantik, pintar, namun ayah tidak ingin jika kamu sesat anakku, seburuk-buruk orang belum tentu hatinya buruk.. ayah tahu kamu sangat ingin seperti teman-temanmu, memiliki apa yang dia inginkan, tapi bersyukurlah dengan apa yang terjadi sekarang, walaupun susah kita tidak boleh bersedih, ayah ingin kamu jadi anak yang sholehah, jadi anak yang dapat dicontoh oleh anak-anak yang lain, kamu adalah anak yang terbaik, ayah bangga padamu anakku..” ucap Pak Abdullah dengan lirih.
“Ayah.. maafin Shinta udah buat ayah jadi begini..ma..ma..maafin Shinta yah.. Shita bersalah ayah.. Shinta sayang sama ayah..!” Shinta pun akhirnya menyesal
“laailaahaillaah...” Pak Abdullah pun menghembuskan nafas terakhirnya pada saat itu

“Ayah... ayah.. jangan pergi!!! jangan tingalin Shanti ayah.. Shanti sayang sama ayah” pada akhirnya pun Shanti menyesal dengan perbuatan yang telah dilakukan kepada ayahnya.